Sabtu, 19 Maret 2016

Doa Seorang Sahabat

Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa.
                                                                          
Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.

Doa pertama mereka panjatkan, mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkah tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema, "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

"Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki ke satu ini.

"Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka, ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

"Kau salah!" suara itu membentak membahana.

"Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

***

Sahabatku, apakah engkau merasa kesuksesanmu sekarang berkat dari doamu pribadi? Sehingga tanpa sadar kita sudah ujub, merasa bangga diri, menganggap diri ini sudah soleh. Engkau mungkin lupa, atau bahkan tidak tahu, selama ini ibumu, ayahmu, saudaramu, keluargamu, anak, suami/istri dan sahabatmu tidak berhenti untuk mendoakan dirimu. Lalu pernahkah engkau mendoakan mereka? Apakah yang kau ingat adalah dirimu sendiri?


Ya Allah maafkan hamba-Mu yang egois ini, yang sering lupa untuk mendoakan saudara-saudara kami, terutama saudara-saudara kami yang sedang tertimpa kesulitan...

Meja Kayu untuk Ibu dan Ayah

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. ”Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. ”Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini.”
Lalu, suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring dan gelas, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua kejadian itu setiap hari dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. ”Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, ”Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saat Aku sudah besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Setelah Mereka makan bersama di meja makan seperti semula. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Renungan
Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak.
Sahabat….sesering apakah kita menangis mendoakan anak-anak kita agar tak terjerumus di lembah maksiat yang kini telah menembus seluruh lorong ruang dan waktu ?
Sesering apakah kita meratap memohon agar anak-anak kita memiliki benteng keimanan yang mampu menahan serangan pergaulan bebas dan narkoba yang telah merajalela ?
Sesering apakah kita menumpahkan air mata ini untuk anak-anak kita agar kelak mereka senantiasa memohonkan ampunan untuk kita ketika kita telah terlelap di alam penantian nanti ?
Seering apakah kita mengantar tidur malamnya dengan cerita-cerita indah penuh keteladanan ? dan keteladanan yang mana pula yang sering kita peragakan dihadapan mereka ?
Tiga hal yang akan abadi bersama kita sampai ajal kita datang nanti :
1. Amal Jariah ( Wakaf dan Sedekah )
2. Anak Yang Sholeh yang selama hidupnya selalu mendoakan kita

3. Ilmu Yang Bermanfaat yang memberi dampak kebaikan kepada banyak orang

Menangislah, karena tumpahnya air mata kita karena takut kepada Allah kelak akan menjadi PEMADAM API NERAKA.

Senin, 01 Juni 2015

Assalamu'alaikum..
Khaifa haluk ya akhi, ukhti?
Masih teringat jelas bagaimana perjuangan kita menegakkan dakwah semasa SMA? Semoga sekarang pun juga masih dan insya Allah tetap istiqomah ya ^^
Jujur, saya kangen dengan masa perjuangan kita melewati jaman yang terbilang sudah sulit untuk meluruskan yang telah bengkok. Namun, dengan kebersamaan kita dan atas ridho-Nya, insya Allah kita bisa :)
Pasti sudah banyak dari kalian yang telah memasuki pendidikan yang lebih tinggi, atau berkarir dengan profesi yang sedang dijalaninya. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran bagi kita semua. Aamiin :)
Saya masih menyimpan video semasa kita re-organisasi nih...


Dan beberapa foto kegiatan...
Bedah Film "Hafalan Shalat Delisa" 
(2012)


 
Buka Bersama di Bulan Ramadhan


Kunjungan Panti di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Klaten




Training Organisasi (Akhwat)



Zakat Fitri 2012




Tadabur alam (akhwat)


Dan, masih banyakkk lagi kegiatan-kegiatan lainnya. Semoga dengan segelintir foto ini, bisa meningkatkan efek kenangan dan perjuangan kita selama ini. #keephamasah :)

Rohisku, Islamku

     Aku selalu berusaha untuk memandang keluar. Dengan pemikiranku sendiri, aku mulai melukiskan kebimbangan hatiku. Aku heran, mengapa akhir-akhir ini Ayah dan Bunda tak lagi menemaniku? Mengapa Ayah dan Bunda sibuk dengan karirnya? Mengapa mereka sekarang tak berada di sisiku? Mengapa mereka tak punya sedikitpun waktu untukku sekarang? Mengapa, mengapa dan mengapa serta banyak pertanyaan lain untuk mereka. Namun tetap saja Ayah dan Bunda tidak berada di sisiku sekarang ini.
          Sementara tadi pagi, mereka hanya menitipkan seiris roti tawar bertabur messes kacang kesukaanku, dan sebuah note kecil yang bertuliskan :
Maria sayang, maafkan Ayah dan Bunda kalau harus pergi ke kantor dulu tanpa membangunkan engkau.  Seiris roti kesukaanmu sudah Bunda siapkan di atas meja makan beserta susu coklat hangat. Selamat menikmati dan semoga Tuhan memberkati kita hari ini…
Love U dear…
Ayah & Bunda
          Senang rasanya, Bunda masih mau membuatkan roti kesukaanku. Tetapi, saat aku mau berangkat ke sekolah, aku mulai merasa jengkel padanya. Sebab, aku tak lagi mendapat pelukan hangat dari beliau setiap paginya. Yah, Bundaku bekerja sebagai Direktur Umum di sebuah perusahaan yang terkenal di kota ini. Sementara Ayah, kini beliau tak lagi bisa mengantarkanku ke sekolah, karena jabatan baru sebagai Kepala Bagian Pemasaran yang diterimanya membuat beliau semakin banyak tugas. Maka, aku harus diantar jemput oleh Mang Uli, sopir keluarga kami.
          Ahhh..rasanya sedih sekali. Saat aku melihat teman-temanku diantar oleh orangtua mereka ke sekolah. Tapi tidak untukku. Dengan langkah gontai, aku keluar dari dalam mobil dan mulai memasuki sekolahku yang berada di jantung kota Magelang ini, SMA Bhakti Persada.
          “ Mariaaa..hei, tunggu !!! ”, seru salah satu temanku, Anissa. Ia sedang mempercepat langkahnya. Dan aku, menungguinya di tangga menuju kelas.
          “ Ada apa? ”, tanyaku.
          “ Kau kenapa Maria? Ada masalah? Berceritalah.. ”, katanya sambil membawa banyak lembaran yang entah apa, aku sendiri pun tak tahu.
          “ Ah tidak ”, jawabku sekenanya.
          “ Lalu, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat murung? ”
          “ Hm, sudahlah Nis.. Ayo ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi, bukan? ”
          “ Baiklah..”, jawabnya dengan rasa penasaran yang masih tersimpan.
          Anissa, ia adalah perempuan yang aku kagumi di kelasku. Sebab, dia pintar dan aktif, baik di kelas maupun dalam berorganisasi. Ia juga seorang yang berjilbab dan rendah hati serta penyabar. Anissa sangat menghormatiku, walaupun aku berbeda agama dengannya. Bahkan, ia jauh lebih menghargai daripada temanku sesama Kristen. Itulah yang membuatku semakin kagum dengan sosok Anissa.
          “ Rin, nanti ada kajian lho di mushola. Jangan izin lagi ya ! ”, kata Anissa kepada Arini. Arini adalah teman semejaku.
          “ Iya deh, nanti ndak bakal izin lagi kok. Soale ketuane yang nyuruh..hehe ”, jawab Arini dengan bahasa Jawanya yang kental.
          Usai percakapan itu aku mulai penasaran. Suatu organisasi kerohanian islam di sekolahku mengadakan kajian di mushola sekolah. Berisi apakah kajian itu? Apakah membahas suatu perbandingan agama yang umumnya dikatakan oleh teman-teman Kristenku kemarin itu? Rasa penasaranku terus bergejolak di hati. Seiring dengan berjalannya waktu yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar hari ini, pikiranku semakin membuncah pada kajian itu. Haruskah aku menyelidiki kajian rohis itu? Dengan tujuan, agar aku dapat membedakan manakah yang benar dan salah? Apakah pendapat dari temanku itu atau rohis SMA Bhakti Persada yang ingin mengacaukan agama non-is?
          “ Eh rin, nanti rohis ada kajian ya? ”, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya pada Arini. Ia terdiam dan menatapku. Tersenyum..
          “ Iya, emange kenapa Maria? Meh ikut? ”, goda Arini.
          “ Ehm.. Memangnya boleh apa orang non-is ikut kajian? ”, tanyaku
          “ Boleh saja. Why not? ”, jawab Anissa dengan senyum manisnya.
          “ Lho, ketuane wae mengijinkan. Emange ada apa to? Kok tumben banget meh ikut kajian rohis? ”, kali ini Arini bertanya dengan nada yang serius.
          “ Eh rin, nggak boleh gitu dong. Jaga bicaramu rin..jangan sampai Maria tersinggung oleh perkataanmu tadi. ”, Anissa yang berbisik ke arah Arini, dan terdengar olehku.
          “ Nggak apa-apa kok Nis. Aku sama sekali nggak tersinggung. Maaf ya, tadi pagi sikapku ketus dan nggak mau jawab pertanyaanmu. ”, kataku sambil menahan lara.
          “ Alhamdulillah.. nggak apa-apa Maria. Aku juga minta maaf ya, kalau pertanyaanku membuatmu agak kesal gitu. ”, katanya dengan tersenyum.
          “ O, lha kowe podho..kok pada maaf-maafan ki ono opo to? Aku ora ngerti iki. ”, sanggah Arini yang tidak tahu tentang kejadian pagi tadi.
          Aku dan Anissa terkekeh, sedangkan Arini hanya mengomeli kami. Yah, mungkin kebersamaan selain dengan orangtua, dan itu dengan mereka inilah yang kudambakan. Dan tetap saja, aku merindukan saat bersama Ayah dan Bunda. Kami kembali fokus pada soal Kimia yang berada di depan mata kami. Dua jam pelajaran yang kosong, telah berhasil menyulapku dekat dengan dua muslimah ini.
          Waktu pun telah berlalu, aku kini tengah berada dalam sekumpulan anggota rohis untuk mendengarkan kajian yang disampaikan oleh seorang wanita yang kerap disapa Mbak Danik. Semua mata memandangku, kecuali Anissa dan Arini. Maklumlah, aku berbeda dengan mereka. Aku tidak berjilbab seperti mereka. Aku tak anggun selayaknya mereka. Dan aku bukanlah seorang muslimin. Aku seorang Protestan. Apalagi teman sesama Kristenku, mereka memandangku seakan penuh tanda tanya dan mencibirku. Ah, aku tak peduli. Aku hanya ingin mencari jawaban tentang semua ini. Saat mereka bilang, bahwa Islam itu agama yang suka membedakan dan mengucilkan agama lain.
          Dari sinilah aku mulai mengagumi Islam. Ternyata dugaan mereka tentang Islam sangatlah salah. “ Islam tidak pernah membedakan dan mengucilkan agama lain, karena Islam percaya bahwa Allah hanya satu. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan itu telah terbukti. Sebab Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas. ”,  jawab Mbak Danik saat aku bertanya pada session tanya jawab.
          Karena hari sudah sore, dan Mang Uli telah menungguiku hampir 1 jam, maka aku mulai pamit kepada teman-teman baruku itu. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, aku mulai berkhayal jika aku masuk Islam dan mengenakan jilbab seperti anak-anak rohis tadi. Pasti aku akan merasa nyaman dari godaan lelaki nakal.
          “ Ngelamunin apa sih Mbak, kok senyum-senyum sendiri? ”, tanya Mang Uli yang membuyarkan lamunanku.
          “ Ah, tidak Mang. Oh iya, Mang Uli punya Al-Qur’an kan Mang? Nanti sore bawa ke rumah ya.. Aku tunggu lho, pokoknya jangan sampai lupa ! ”, kataku pada beliau. Dalam hati, aku kepengin sekali bisa mengetahui isi Al-Qur’an itu.
          “ Hah? Untuk apa sih Mbak? ”, tanya Mang Uli yang mungkin penasaran dengan kata-kataku tadi.
          “ Ehm, ndak apa-apa Mang, Maria hanya ingin tahu bagaimana isinya. Itu saja. ”, jawabku dengan senyum dan lamunan yang terus membumbung.
          Sesampainya dirumah, tak kulihat sosok Ayah dan Bunda. Mungin mereka belum pulang, pikirku. Aku mulai masuk ke kamar dan membuka buku Agama yang diterangkan guruku tadi pagi. Ah, rasa lapar melandaku. Sementara Ayah dan Bunda belum pulang juga.
          “ Huftt..ini kan sudah jam 5 sore, masa Ayah dan Bunda belum pulang juga? ”, keluhku.
          Tok..tok..tokkk.. “ Permisi Mbak Maria. ”, seru seseorang di luar sana.
          Ku buka pintu kamarku dan kudapati Mang Uli membawakanku sebuah buku, dan pasti itu Al-Qur’an. Tak lupa, beliau membawakanku serantang makanan.
          “ Ini Mbak Al-Qur’annya. ”, kata Mang Uli seraya menyerahkan kitab itu kepadaku. “ Ini juga ada sedikit makanan dari rumah. Pasti Mbak Maria lapar kan? ”, godanya.
          “ Oh, terimakasih Mang. Terimakasih juga makanannya. ”, ucapku. “ Mang Uli sudah makan belum? Kalau belum, sini makan sama Maria. ”, ajakku sambil membawa dua benda itu menuruni tangga menuju ruang makan.
          “ Sudah Mbak, Mang tadi makan di rumah. ”, kata beliau. Kami pun terdiam. Aku mulai menyantap makanan itu. “ Emm..kalau boleh tahu, untuk apa Mbak Maria mengkaji Al-Qur’an? ”, tanya Mang Uli itu benar-benar membuatku terkejut. Yahh..untuk apa aku memngkaji Al-Qur’an? Untuk apa aku harus mengetahui isinya? Padahal jelaslah sudah kalau aku adalah seorang Nasrani. Kristen Protestan.
          Sesaat aku diam dan merenung. Mencoba mencari jawaban atas tingkahku yang mungkin bisa dibilang aneh ini. Lampu-lampu pikiranku akhirnya muncul juga. “ Sebenarnya, aku penasaran Mang. Aku penasaran dengan Islam. Aku ingin mencari jawab atas semua kesalahanku. Aku ingin berubah Mang. Aku pengin seperti mereka. Bebas tak terikat sepertiku. Aku pengin Ayah dan Bunda di sini. Aku pengin mereka selalu ada untukku, seperti orangtua mereka yang selalu ada di samping mereka, membimbing mereka. Apa yang harus aku lakukan Mang? ”, teriakku dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mataku. Kini, aku tak tahan lagi. Dengan siapa aku mencurahkan isi hatiku, selain pada Mang Uli yang setia menemaniku.
          “ Mbak Maria, ndak boleh gitu Mbak. Berdoa sama Allah. Minta petunjuk padaNya. Allah kan selalu ada untuk kita. ”, jawaban Mang Uli sedikit menenangkan hatiku.
          Aku mengusap tangisku. Aku mulai membuka Al-Qur’an dan Mang Uli tetap saja masih di sampingku. Kulihat, ia sedang menatapku dan tersenyum. Beliau mungkin tahu bahwa aku tak mengerti bagaimana membuka Al-Qur’an. Lalu, Mang Uli mengajariku membukanya dan membuka beberapa surat, terutama surat Al-Ikhlas yang sangat menarik hatiku. Aku pahami Al-Qur’an terjemahan itu. Aku berpikir, jika Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, mengapa dalam kitabku Tuhan mempunyai seorang Ibu? Rohis benar-benar membuka mataku. Mengubah pola pikirku.
          Aku mulai sibuk mencari jawaban atas rasa penasaranku. Ah, banyak sekali surat yang termuat dalam kitab ini. Aku lihat dalam daftar isi. Di sana, terdapat surat Maryam.
          “ Seperti namaku.”, kataku.
          “ Apa Mbak? ”, tanya Mang Uli.
          “ Maryam Mang, namaku Maria. Maria Chisilia Rebecca. Tak jauh berbeda bukan? ”
          “ Surat Maryam itu ya? Itu kan menceritakan Nabi Isa dan Ibunya yang bernama Maryam.”
          “ Nabi Isa? Bukankah putra Bunda Maria itu Yesus Mang?”, tanyaku yang semakin menggebu.
          “ Bukan Mbak. Di dalam Al-Qur’an, Isa disebutkan sebagai putra Maryam. Dan Isa dikejar-kejar oleh orang-orang. Lalu dengan kuasa Allah, pemimpin yang mengejar Isa tadi disamakan wajahnya dengan Isa. Dan Nabi Isa, diangkat oleh Allah menuju ke langit. Lalu oleh pasukannya, ia sendiri disalib.”
          “ Kalau boleh tahu, siapa orang yang mengejar Nabi Isa Mang?”
          “ Ialah Yudas, Mbak. ”
          “ Apakah itu yang disebut kaum Nasrani dengan sebutan Yesus? Tuhanku itu?”
          “ Bacalah Mbak. Maka Mbak Maria akan tahu kebenarannya.”, jawaban Mang Uli itu benar-benar membuatku semakin penasaran.
          Aku mulai membaca ayat demi ayat. Saat itu pula, aku bisa menitikkan airmataku. Bahwa selama ini aku menganut agama yang salah. Agama yang tidak diridhai Allah. Tanpa disadari, Ayah dan Bunda telah berada di belakangku. Kelihatannya mereka marah, mungkin karena aku membaca kitab ini. Sambil sesenggukan, aku menyapa mereka. Namun, mereka tetap dingin.
          “ Maria hentikan. Kau bukanlah orang Islam. Kenapa membaca kitab itu? Kau bodoh sekali.”, kata Bunda kepadaku. Sementara Ayah, mungkin beliau sekarang sedang memarahi Mang Uli. Suaranya terdengar sampai sini.
          “ Bunda. Aku memang bodoh. Dan aku sangat bodoh. Karena, tak ada lagi pelukan hangat setiap harinya untukku.  Aku kesepian bunda. Bunda dan Ayah tak mau mengerti tentang keadaanku. Dan tahukah Bunda? Setelah membaca kitab itu,  kurasa aku memang benar-benar bodoh. Aku berada di jalan yang salah. ”
          “ Apa maksudmu di jalan yang salah? Kau tak tahu pengorbanan Tuhan yang disalib demi menyelamatkan dosa para hambanya? Kau tak menyadari itu Maria? ”
          “ Tuhan? Dia tak lagi Tuhanku Bunda. Dia disalib, sebab pernah mengejar Nabi Isa Putra Maryam. Dan Bunda Maria tidak pernah mempunyai anak bernama Yesus, Bunda.”
          “ Hentikan omong kosongmu Maria, kau tahu kan?....”, belum sempat Bunda menyelesaikan kata-katanya, beliau menangis sejadinya.
          “ Maria, Bunda dulu pernah murtad dari Islam. Dari dulu, Bunda ingin sekali kembali ke agama Islam. Tapi Ayah tetap saja melarang Bunda menjadi muallaf kembali. Itulah sebabnya Bunda marah padamu sayang. Karena Ayah adalah Kristen tulen.”, kata Bunda dengan berlinangan airmata.
          Kami terdiam. Sementara, di luar sana mungkin terjadi perdebatan seru antara Ayah dengan Mang Uli. Aku berlari ke luar. Aku ingin meyakinkan pada Ayah, bahwa Islam itu benar. Tapi semua di luar dugaanku. Ternyata, kata-kata Mang Uli bisa menampar hati Ayah. Di situ pulalah Ayah menangis. Sementara Bunda, beliau sesenggukan di belakangku. Kini waktu bagaikan dihantam sembilu. Sebelumnya, aku tak percaya. Dengan masuknya Al-Qur’an di rumah ini, bisa membenarkan yang salah dan menengakkan yang patah.
          Dengan kesepakatan Ayah, Bunda dan aku sendiri, kini kami bertekad masuk Islam. Mengucapkan kalimat syahadat yang dipimpin oleh Mang Uli. Suaranya yang membeningkan hati dan pikiranku, lembut dan enak di dengar. Dan alhamdulillah, karena penasaranku akan rohis dan Islam terbayar sudah.

          Kini aku mulai masuk keanggotaan rohis di sekolah dan menemukan teman baik di sana. Berkat rohis, Islam menyelamatkanku. Rohis, I LOVE YOU ..



Ditulis pada 1 Agustus 2012

Selasa, 17 Februari 2015

krs? baik-baik saja..

Bingung sudah ketika memasuki masa perkuliahan di semester baru. Mulai dari rasa senang, gelisah, kacau bahkan frustasi. Nah, nita mau bagi tips buat kalian nih:

1. Mencari dosen yang dianggap "enak" maupun menyusun jadwal agar tidak tumbukan. Namun, jangan terpaku pada apa yang dikatakan kakak tingkat tentang dosen yang "enak". Mungkin apa yang dikatakan memang benar. Tapi, jangan terus mencari dosen yang "enak", jika kuota sudah penuh kamu pasti frustasi. Biarkan nama dosen yang "tidak enak" tertera dalam jadwal kuliahmu. Enak tidaknya itu relatif. Kamu akan merasakan enak atau tidaknya ya pas diajar oleh beliau.

2. Cari informasi, apa yang harus dilakukan ketika menghadapi dosen yang seperti ini. Mulai dari cara mengajarnya, tugas dan ulangan, bahkan tingkat kedisiplinannya.

3. Paculah semangatmu. Biarkan ia menggelora. Seringkali jika kita dapat dosen yang dianggap tidak enak, ada yang ingin bekerja maksimal agar bisa membuktikan bahwa ia bisa. Atau ada juga yang malah menyepelekan hal ini, sudah terlanjur malas katanya. Tapi, jika ingin mendapat nilai bagus maka perbaiki niat dan pandanganmu.

4. Banyak berdoa. Siapa tahu dosen yang dianggap "tidak enak" itu berbaik hati memberi nilai bagus di hasilmu. Tapi tetep usaha lho yaa..usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil kok.

Siapapun dosennya. Apapun mata kuliahnya. Harus tetap semangat! Bukankah Allah tidak akan membebani kita kecuali yang benar-benar bisa kita panggul?
Salam Semangat :)

hujan, senja dan asa

Langit lagi lagi menitikkan hujan pada senja kali ini. Entah sudah tiba pada musim penghujan atau Tuhan memang sengaja mengirimkan air untuk para hamba-Nya.
Kadang aku merasa, ada kekuatan magis antara hujan dan kenangan. Mungkin kalian juga merasakannya bukan?
Seakan-akan memorabilia terulang kembali kala hujan tiba. Ahh, hujan sebegitu dahsyatnya sampai membawa kita ke masa lalu. Baik kenangan manis maupun pahit. Apalagi ketika hujan datang dan teringatkan akan sesorang. Adalah rindu, kata yang terucap lirih, selembut udara yang terhembus bersama asa. Sehalus isyarat langit kepada bumi. Kelak hujan, ialah doa pemersatu dari segala jeda.

Bahkan, masa kecil saat main kapal-kapalan, main sepak bola bersama teman-teman pas hujan pun masih terngiang dikepala. Menginjak remaja, saat mengikuti ekskul di sekolah. Mau pulang, malah tiba-tiba hujan. Menunggu hujan reda bersama teman-teman ssambil ngobrol dan bersenda guaru adalah hal yang paling mengasyikkan.

Namun semua terasa berbeda ketika kita sendiri. Kenangan demi kenangan akan terus memenuhi kepala kita. Tapi biarlah rintik hujan yang mengisyaratkan pada mereka bahwa mereka selalu ada dalam doa kita.
Selamat menikmati hujan senja berbalutkan asa :)


Minggu, 15 Februari 2015

hai

          Entah mengapa mengungkapkan apa yang ada didalam pikiran itu sulit. Mencoba menuliskannya saja kelu, apalagi mengatakannya. Namun sungguh, kenangan tetaplah menjadi kenangan. Biarkan ia tertata rapi di altar jiwa. Pun dengan setiap episode kehidupan yang pernah terlewati. Momen indah yang pernah terlampaui. Dan impian yang pernah dicapai. Dan mulai hari ini aku akan menulis. Melukiskan bayang yang tak pernah tertangkap lagi oleh kedua mataku. Menerawang apa yang akan kusiapkan demi masa depanku.

Hai, perkenalkan..
Namaku Nita. Tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Sekarang sedang berjuang untuk menyelesaikan S1 Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Doakan ya teman-temanss^^
Maklum, masih awam dengan dunia teknik. Inipun baru mau menginjakkan kaki di semester dua..Bismillah, jalani saja dulu. Semangattt :')